Tampilkan postingan dengan label hope. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hope. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Agustus 2017

Aku Ingin Hidup


Namaku Fajar, seperti sang Fajar yang sempat tenggelam ditelan gelapnya malam, begitu juga hidupku yang hampir tenggelam dan tak kembali bersinar di bumi. Pagi hari yang cerah itu, aku mengalami kecelakaan yang mengerikan. Saat itu aku baru beberapa hari lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Aku tertabrak sebuah mobil truk yang oleng, karena supirnya mengantuk. Aku pun dibawa ke rumah sakit oleh orang-orang yang melihatku tergeletak di jalan setelah terlempar sejauh empat meter. Selama diperjalanan ke rumah sakit aku masih setengah sadar. Dalam sadarku aku teringat pada seseorang, dia adalah tanteku.
Aku teringat saat tanteku sakit, karena kanker yang menggerogotinya. Dia bisa dikatakan orang berada. Tanteku mempunyai anak yang sudah besar-besar, mereka ada yang sudah bekerja, dan sudah berkeluarga. Tantek begitu berjuang melawan penyakit kankernya, karena dia ingin sekali sembuh. Sampai suatu hari dia harus dibawa ke rumah sakit, karena badannya yang drop dan harus segera dioprasi.
Namun yang terjadi, anak-anaknya malah tidak mengoprasinya karena alasan tidak ada biaya. Padahal jika dia menjual salah satu tanahnya saja, dia pasti bisa dioprasi. Walaupun dokter mengatakan hanya 10% kemungkinan oprasi tanteku bisa berhasil. Aku tahu mereka tidak melakukan oprasi itu, bukan berarti mereka tidak menyayangi ibunya. Tapi karena mereka berpikir oprasi itu akan percuma, karena kemungkinan berhasilnya yang kecil, tapi biayanya yang besar. Mungkin mereka berpikir, lebih baik uangnya dipakai untuk yang lebih bermanfaat.
Tapi setidaknya apa salahnya kita mencoba melakukan oprasi itu? Bahkan walau kemungkinan untuk hidupnya hanya 1%, toh taka ada yang mustahil bagi tuhan. Manusia hanya bisa berusaha dan mencoba, apa lagi dia adalah ibu mereka sendiri yang seharusnya mereka perjuangkan. Jangan takut kehilangan sedikit hartamu demi orang yang rela memberikan seluruh hartanya. Apa lagi tanteku selalu berjuang ingin sembuh melawan penyakitnya.
            Dari situ terbesit diingatanku, aku takut keluargaku memperlakukan hal yang sama padaku, seperti pada tanteku. Apa lagi aku tak punya apa-apa untuk aku jual. Selama aku tersadar diperjalanan menuju rumah sakit aku terus berkata pada keluargaku. “Aku ingin hidup. Aku ingin hidup!” kataku sambil terbata-bata menahan sakit. “Aku ingin hidup lebih lama, aku ingin melakukan yang aku inginkan sebelum aku mati. Jadi, kumohon jangan … jangan sampai aku mati! Sebelum aku tahu, untuk apa aku hidup di dunia ini? Selamtakan aku!” harapku dalam hati.
Aku memohon pada mereka dengan lidah masih terbata-bata, “Lakukan apa saja agar aku tetap hidup. Kan ku balas berkali-kali lipat!”. Dan akhirnya aku tak sadarkan diri dan koma untuk waktu yang cukup lama. Meski aku tak sadarkan diri, dalam komaku sesungguhnya aku sedang berjuang agar tetap hidup. Dokter pun salut padaku yang koma ini, berkali-kali aku mengalami syok, berkali-kali pula aku lolos dar kematian. Dokter  bilang aku sempat tiga kali mengalami masa kritis, namun aku tetap bertahan dan melawan kematian.
Saudaraku yang seumuran denganku, Resna namanya. Yang terus mendukungku untuk tetap bertahan dan memkasa keluarga serta sanak saudaraku untuk membantu pengobatanku. Resna terus meyakinkan mereka bahwa semua biaya yang mereka keluarkan untukku, akan aku ganti berkali-kali lipat jika aku sembuh. Sedangkan nenekku hanya bisa menangis melihat keadaanku. Tentunya dengan izin tuhan juga aku mampu bertahan dan sembuh.
            Saat ini aku berada di London, untungnya saat masih di sekolah bahasa inggrisku lumayan lancar. Walau aku dari kalangan orang tak berpunya dan dibesarkan oleh seorang nenek tua. Aku tidak pernah melihat ibuku, karena dia meninggal setelah melahirkanku. Dan ayahku yang meninggalkanku, setahun setelah aku lahir untuk menjemput istri barunya. Sampai sekarang, dia belum pernah memberiku kabar dan menjengukku.
Selama aku di London aku sedang terus berusaha mempertahankan hidupku dan menepati janjiku, sebagai rasa syukurku karena aku masih bisa bernafas di bumi ini. Siang dan malam terasa sama bagiku, cuma satu yang aku pikirkan kerja-kerja dan terus bekerja tanpa henti. Umurku sekarang sudah menginjak dua puluh sembilan tahun. Semenjak sebelas tahun yang lalu, setelah aku benar-benar sembuh. Aku berangkat ke negeri ini, untuk mencari uang dan membayar semua hutang-hutangku kepada saudara dan keluargaku.
Yah, sebelas tahun aku bekerja tanpa henti, dan tidur tiga jam sehari hanya untuk membayar hutang pada keluargaku. Harga yang kurasa pantas untuk sebuah nyawa, dan kesempatan hidup.
Aku tidak tahu informasi terbaru saat ini, jika bukan teman kerjaku yang memberi tahuku. Aku tidak tahu tren terbaru saat ini, fashion apa yang sedang musim? Yang kupunya hanya sepuluh pasang baju yang setia menemani dan menyerap keringatku selama sebelas tahun terakhir ini. Entah sampai kapan hidupku seperti ini? Terus bekerja dan bekerja, untuk membayar hutang-hutangku. Hingga saat nenek meninggal, aku tak bisa pergi untuk sekedar menjenguknya.

“Cepat-cepat bawa itu ke sini! Hey kamu ber-sihkan piringnya!” kata Kepala Koki sambil menunjuk-nunjuk.
“Yes Chef (kepala koki)!” jawabku dan teman-teman serentak.
Dapur yang kacau balau saat itu, dan aku yang hanya sebagai asisten koki, harus selalu siap, cepat, dan tidak melakukan kesalahan sedikit pun. Mengambil bahan masakan di pendingin, member-sihkan piring dan wajan, memberikan bumbu yang akan dipakai Koki. Pekerjaan ini mengharuskanku datang lebih awal untuk mempersiapkan semuanya dan pulang paling terakhir untuk membereskan semuanya.
Pulang dari restoran, aku tak lekas istirahat tapi aku membereskan rumah, mencuci, mengepel di rumah yang kutinggali. Pemiliknya adalah orang Indonesia yang memiliki suami asli London. Aku tinggal di sini dan di gaji oleh mereka, untuk sekedar membersihkan rumah saja. Ibu itu baik sekali padaku, ibu itu bernama Bu Sukma. Mereka mempunyai dua anak laki-laki berusia empat belas tahun dan anak perempuan berusia dua belas tahun.
            Aku bersyukur di balik kesusahanku, masih ada yang baik padaku. Keluarga ini sudah meng-anggapku, seperti keluarga mereka sendiri. Anak-anaknya pun menganggapku, seperti pamannya sendiri. Karena dari kecil aku sudah mengurus mereka. Mengantar mereka ke sekolah dan mem-bantu mereka mengerjakan tugas sekolahnya. Sebelumn akhirnya, aku bekerja di restoran ini sekitar tiga tahun yang lalu.
Dulu sebelum aku kerja di restoran juga, aku sempat melakukan berbagai macam pekerjaan, mulai dari kasir mini market, SPBU, pelayan restoran, pelayan dimakanan cepat saji, bahkan jadi pengamen pun aku jalani. Yang kupikirkan hanya mencari uang dan mencari uang.
            Karena orang-orang di kampung selalu meng-irimkan pesan padaku untuk segera mengirimkan uang. Aku tahu jika kuhitung-hitung, sebenarnya hutangku sudah lunas dari bertahun-tahun yang lalu. Atau tiga tahun setelah aku kerja keras banting tulang di negeri ini. Tapi aku tahu janjiku untuk membayar mereka berkali-kali lipat, dan aku juga tahu untuk setiap desah nafas yang kuhirup hari ini, saat ini, detik ini begitu berharga dan begitu mahal harganya.
Hanya satu yang kuharapkan suatu saat nanti, setelah kurasa cukup untuk membayar hutangku. Aku dapat hidup bebas tanpa beban, dan mewujudkan mimpi-mimpiku sebelum aku mati. Tak peduli saat itu usiaku sudah enam puluh tahun lebih atau pun kurang. Tak peduli seminggu lagi ajalku menjemput. Aku akan berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpiku sebelum aku mati.
Dulu entah kapan tepatnya, rasa itu sering muncul. Saat itu, aku ingin pergi jauuuuh sekali. Pergi sejauh mungkin, mencoba menghindari semua permasalahan hidup. Dan berharap akan ada ke-hidupan yang lebih baik, di tempat yang baru. Tapi itu hanya sebuah harapan, pada kenyataannya aku tak mampu pergi dan harus menghadapi semuanya. Aku terlalu banyak berpikir dan takut, untuk pergi dari rumah gubuk, kampung yang kolot, nenek yang tua renta lagi miskin, dan hinaan-hinaan yang tersirat mau pun tersurat dari setiap mata.
Aku marah kenapa aku dilahirkan ke dunia ini, hanya untuk membuat ibuku mati. Aku marah kenapa ayahku meninggalkanku untuk wanita lain, apa artinya diriku baginya? Aku marah melihat nenekku yang tua renta harus bekerja mencari uang hanya untuk agar aku bisa makan. Aku marah karena keadaan memaksaku untuk berpikir dewasa sejak aku kecil. Aku iri melihat teman-temanku yang bermain ceria tanpa beban. Aku iri melihat teman-temanku yang dapat uang jajan hanya dengan meminta. Sedangkan aku? Uang yang aku dapatkan harus aku tabung untuk berjaga-jaga jika nenek tak dapat uang, untuk menyambung hidup kami.
            Aku ingin pergi dari kehidupan seperti ini, pergi dan tak ingin kembali. Jika aku mampu aku ingin mengusirnya dari hidupku. Jika aku bisa, lebih baik aku jadi orang kaya tuhan. Namun saat aku melihat nenek tua itu, aku ingat perkataannya.
“Ingat teruslah Tuhan, maka kamu akan terus bersyukur. Saat kamu bersyukur PASTI dirimu bahagia. Saat bahagianya dirimu bersyukurlah lagi, dengan memberi kebahagiaan pada orang lain. Maka kali ini bukan hanya dirirmu saja yang bahagia, tapi juga HIDUPMU.”

            Maka dari itu setelah tuhan memberiku kesempatan hidup, aku tak ingin menyianyiakannya. Aku ingin mencari keberadaan ayahku, dan berkata padanya bahwa aku telah berhasil. Berhasil me-wujudkan mimpiku untuk menjadi seorang Koki profesional dan membuka sekolah geratis bagi anak-anak yang tidak mampu dikampungku. Mempunyai anak dan istri yang akanku cintai sepenuh hati. Mimpiku memang sederhana, sesederhana untuk diucapkan, tapi sulit untukku wujudkan.

BERSAMBUNG...

Senin, 06 Februari 2017

HOPE IS A MAGIC - (Tinta Hitam)

Tinta Hitam

            Pagi hari yang cerah, seorang lelaki membuka pintu sangkar burungnya. Burung itu pun terbang lepas ke angkasa, menjelajahi awan dan hinggap tepat di puncak pohon. Lelaki itu pun kembali masuk ke dalam rumah, mencoba menjalani dan menata hidupnya kembali.
            Namaku Pakur, aku pembunuh, aku pemalak, penjudi, dan pemabuk. Semua hal yang kulakukan adalah hal yang paling tuhan benci umatnya lakukan. Semua orang menakutiku, dan setiap aku bertemu dengan mereka, maka mereka tersenyum penuh paksaan serta menunduk penuh kebencian.
            Orang-orang menjulukiku si jagal! Aku menjagal apa saja yang tak ingin kulihat hidup. Aku tak pernah bermimpi akan menjadi seperti ini, apa lagi bercita-cita menjadi diriku yang sekarang. Aku benci pernikahan, bagiku tak ada yang namanya cinta. Munafik bagi orang yang bilang itu ada.
            Cinta? Cinta macam apa yang kalian maksud? Cinta yang murnikah atau jujur? Yang ada hanya perselingkuhan, munafik jika mata-mata kalian tak tertarik pada yang lebih dari apa yang kalian punya.
Cinta yang tulus atau setia? Yang ada cinta karena uang, munafik jika kalian bisa tulus dan setia tanpa uang untuk kalian menyambung hidup.
Cinta apa yang kalian maksud? Cinta sejati? Apa ada cinta sejati diantara sesama manusia di dunia ini? Yang ada hanya arti sebuah kebutuhan yang mengatas namakan cinta.
            Orang tuaku bercerai dan mereka membuangku sendirian. Aku besar dijalanan, tanpa kasih dan petuah. Tahukah kalian betapa mengerikannya jalanan? Bahkan mungkin kalian tidak akan mampu membayangkannya. Jika kalian pikir setan yang tak terlihat itulah yang paling mengerikan, kalian salah. Setan yang paling mengerikan adalah setan berwujud manusia, dengan senyum malaikat dipipinya.
            Manusia akan tumbuh dengan apa yang ia lihat, ia dengar, ia rasakan, dan ia jalani. Begitulah aku, para setan itulah yang membuatku menjadi setan bahkan monster. Mereka bilang kenapa aku bisa menjadi seperti inih? Apa aku menginginkannya? Tak ada yang memeluk anak kecil itu saat ia ketakutan. Tak ada yang menenagkannya saat dia menangis. Dia kehujanan, kelaparan, kedinginan, setan-setan itulah yang menjaganya. Dan memberikan semua yang ia butuhkan dan inginkan, namun apakah di dunia ini ada yang geratis? Kau pikir saja sendiri.
***
            “Kamu itu istri macam apa? Pagi-pagi bukannya nyiapin sarapan, malah sibuk ngurusin diri sendiri. Kamu lihat anak kamu, gak ke urus,” kata Pak Mandra.
Pakur yang saat itu masih berusia delapan tahun, begitu pasrah melihat orang tuanya yang setiap hari bertengkar. Dia pun pergi ke sekolah tanpa pamit, dan langsung beranjak pergi.
            “Ngurusin diri sendiri? Aku minta cerai sekarang juga, kamu pikir dong pakai otak. Kamu masih bisa makan dari mana kalo aku gak kerja?,” kata Bu Lilis.
            “Aku juga lagi cari kerja yah! Jangan mentang-mentang udah sebulan ini kamu yang cari uang, kamu jadi bisa seenaknya. Kamu pikir aku bakal tahan punya istri kaya kamu yang diotaknya cuma duit dan duit. Kamu mau cerai? Oke kita cerai, aku langsung talak tiga kamu,” kata Pak Mandra.
            “Oke, aku pergi!,” kata Bu Lilis yang sudah siap dengan kopernya.
            ‘Oh, jadi kamu sudah mempersiapkan kopermu juga? Gak usah sok nyalahin orang kalo kamu mau pergi. Pergi sanah!,” kata Pak Mandra marah.
            Saat pulang sekolah Pakur sebenarnya malas sekali pulang ke rumah, toh di rumah juga tidak ada siapa-siapa. Dia makan apapun yang ada di dalam kulkas, namun kepulangannya saat itu ke rumah benar-benar berbeda. Setelah beberapa hari setelah kejadian itu, Pakur benar-benar kelaparan karena sudah tak ada makanan lagi di dalam kulkasnya. Setelah kejadian itu, orang tuanya me-ninggalkan dia dan tak pernah kembali. Meninggalkan Pakur kecil sendirian.
            Pakur yang kelaparan mendengar suara ketukan pintu, Pakur yang membuka pintu depan rumahnya. Melihat seorang ibu dengan menggendong anaknya yang masih balita, menanyakan orang tuanya untuk segera membayar kontrakan. Karena sudah dua bulan belum dibayar, Pakur kecil diusir tanpa tahu harus pergi ke mana.
            Jalananlah lingkungan baru bagi Pakur, membentuk karakter dan sejarah hidupnya pun dibuat di sana. Banyak ilmu yang ia dapat mulai dari nyopet, mencuri, maling, malak, dan masih banyak lagi hal yang ia pelajari di sana. Puncaknya berputarnya titik nadir kehidupanku, saat langkahku menuntunku ke sebuah tempat. Tempat yang belum pernah kusinggahi, di sana aku melihat aki-aki dan nenek peot yang bertemu dengan masing-masing membawa keluarga bahagia mereka.
            Aku bunuh nenek peot dan aki-aki itu, teganya mereka mengahdirkanku ke dunia inih. Namun mereka tak mau menuntunku atau mengenalkanku pada dunia. Aku tak mau mati sebelum amarah dan benciku bertemu pada yang seharusnya ia tuju. Walau aku ingin mati, menghilangkan rasa sakit inih. Aku ingin mereka dulu, yang mati merasakan sakit yang teramat meninggalkan keluarga baru mereka yang bahagia. Baru aku puas, sepuas-puasnya mengobati hatiku.
            Sialnya bukan puas yang kudapat setelah tangan ini mengambil nafas mereka, hanya kehampaan yang semakin kurasakan. Nenek peot dan aki-aki itu, ternyata selama ini mencariku tanpa henti. Dan merindukanku tanpa berhenti sedetik pun. Preman dan pembunuh ini juga tuhan ciptakan hati di dalam tubuhnya.
***
“Hitam semua hitam, catatan suram hadir dihidupnya.
Terdapat tinta-tinta hitam dalam hidupnya.
Perbuatan keji yang membawanya ke dalam lubang dosa.
Sehingga dia kesepian.
Duduk diam di ruang hampa.
Menebus dosa di dunia.
Kejadian yang takan hilang dalam benaknya.
Hingga tinggal sesal.
Menatapi keadaan dan menerima hidup di dalam sangkar.
Dia berharap waktu dapat lebih cepat berputar.
Andai saja, dia berpikir pada waktu supaya tidak cepat berputar, tapi kembali.
Kembali untuk mengubah segalanya…
Itulah penyesalan seorang NAPI.”

-Pakur-

Rabu, 18 Januari 2017

HOPE IS A MAGIC - (Dwi)

Dwi

            Dwi gadis belia yang baru menginjak bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), usianya baru menginjak lima belas tahun. Suatu malam, dia bertemu dengan seorang pria yang terkena luka tembak dikakinya. Dwi gadis luguh itu, menolongnya tanpa pikir panjang, atau merasa takut sama sekali. Pria yang tertembak dikakinya itu bernama Faldo.
Gadis itu tidak tahu jika Faldo, adalah orang yang selama ini ingin mencelakai ayahnya sendiri. Dulu, Faldo mempunyai keluarga yang lengkap ayah, ibu yang sangat menyayanginya. Serta adik perempuan yang hanya berpaut dua tahun darinya yang begitu perhatian padanya. Hingga suatu malam seluruh keluarganya dibantai, oleh orang yang sedang mengincar tanah milik keluarga Faldo. Saat itu ayah dan ibunya Faldo tidak ingin menjual tanah peninggalan kelurganya, kepada Pak Surya yang sedang berencana membuka hotel baru. Dari situlah Faldo datang pada Mr.Gabriel, musuh dari Pak Surya. Untuk bekerja sama menghancurkan Pak Surya ayahnya Dwi.

            Malam itu, Faldo yang sedang berusaha menghindar dari kejaran polisi dengan luka tembak dikakinya. Lalu kemudian Faldo menabrak Dwi, hingga membuat Dwi terjatuh dan berteriak. Faldo pun segera menutup mulut Dwi dengan tangannya, dan membawanya bersembunyi dari kejaran polisi yang mendengar suara teriakan Dwi. Dwi diam tak berkutik melihat mata Faldo, hatinya berdegup kencang tak karuan. Setelah polisi pergi, Faldo pun melepaskan tangannya dari mulut Dwi.
            “Pergilah!,” kata Faldo sambil mengambil pisau dari sakunya.
Dwi pun pergi dari sana. Tapi Faldo yang mengeluarkan pisaunya, langsung menusukan  pisaunya dikakinya dengan sedikit berteriak karena menahan sakit. Faldo pun mengeluarkan peluru yang bersarang dikakinya itu dengan pisau, dan merobekan bajunya. Kemudian robekan baju itu, ia jadikan perban untuk menghentikan pendarahan dikakinya.
            “Anda tidak kenapa-kenapa? Kaki anda terluka, saya bawa ke rumah sakit yah?,” kata Dwi yang datang menghampiri Faldo lagi.
            “Tidak usah. Pergilah!,” kata Faldo.
            “Tapi…,” kata Dwi.
            “Pergi!,” kata Faldo dengan nada marah.
           
Suatu hari Dwi pergi ke panti jompo, di mana dulu neneknya suka membawanya main ke sana. Dwi tak punya ibu, ibunya meninggal setelah dia dilahirkan. Selama masa kecilnya, ia dibesarkan oleh neneknya. Neneknya sering membawa Dwi ke panti jompo, untuk menemui salah satu sahabat neneknya di sana.
            “Oma Ani di mana yah, Bu?,” tanya Dwi pada seorang pengurus panti.
            “Oh, Bu Ani yang suka menyulam itu yah?,” tegas pengurus panti itu.
            “Iya Bu.”
            “Beliau sudah meninggal sekitar lima bulan yang lalu dik.”
            “Apa?”
            “Iya, beliau meninggal karena sakit keras dik.”
            “Oh, trimakasih Bu,  kata Dwi sambil berlalu pergi.

            “Oma, sekarang Oma di sana sudah punya temankan? Semua orang meninggalkanku. Aku punya papah, tapi serasa tidak punya papah. Dia terlalu sibuk dengan kekuasaannya,” gumam Dwi.
Saat Dwi hendak keluar dari panti, Dwi melihat Faldo sedang membagikan makanan pada para nenek dan kakek yang ada di sana. Setelah Faldo selesai membagikan makanan kepada para nenek dan kakek di panti jompo itu, dia pun langsung beranjak pergi. Dari belakang Dwi pun membuntutinya, Dwi melihat Faldo membagikan makanan geratis juga pada para pemulung dan pengamen di jalan.
            “Pria itu baik juga, di dunia ini ternyata masih ada orang-orang yang peduli pada orang lain. Beruntung banget yang jadi pacar dia, dapat pria yang begitu baik. Andai saja aku jadi wanitanya, aku pasti akan diperhatikan terus. Dan aku gak bakalan kesepian lagi, gumam Dwi.
Sejak saat itu, Dwi sering sekali pergi ke panti jompo untuk bertemu dengan Faldo. Dwi pun mencoba untuk berkenalan dengan Faldo, tapi tak berhasil. Lama kelamaan Dwi bukan hanya ingin berkenalan dengan Faldo, tapi juga ingin mengenalnya.
            “Anda ingat tidak malam itu kaki anda terluka?,” tanya Dwi pada Faldo.
Namun Faldo tak bergeming sepatah kata pun. Begitu pun Dwi dia malah semakin berusaha keras menempel di sisi Faldo, dan mengikutinya ke mana pun Faldo pergi. Hingga membuat Faldo kesal padanya.
            Hingga pada suatu hari, Faldo marah sekali pada Dwi. Karean saat itu Dwi mengajak salah satu kakek bermain keluar panti, dan membuat si kakek terluka karena terjatuh. Sehingga si kakek harus dirawat di rumah sakit. Dwi merasa bersalah, tapi Faldo malah terus memerahi Dwi dan menyuruhnya untuk tidak pernah datang lagi ke sana. Setelah kejadian itu, Dwi tidak datang ke sana lagi. Ada perasaan rindu yang menggejolak di hati Dwi, dia ingin sekali bertemu dengan Faldo.
            “Apa aku benar-benar jatuh cinta pada cowok itu? Dia emang baik, tapi lihat tampilannya dia begitu acak-acakan,” gumam Dwi dikamarnya.
Faldo merasa ada yang hilang pada hari-harinya, tak ada gadis cerewet yang selalu membututinya kemana-mana lagi sekarang. “Kamu sedang apa?,” tanya Mr.Gabriel mengagetkan. Faldo hanya menggeleng. “Kamu kenal Dwi?,” tanya Mr.Gabriel. Faldo hanya melihat mata Mr.Gabriel seakan bertanya, kenapa Mr.Gabriel mengenal Dwi.
            “Dia itu anak satu-satunya Surya,” kata Mr.Gabriel.
            “Apa?,” tanya Faldo kaget.
            “Selama ini aku menyuruhmu untuk tidak tinggal di negara ini, karena aku punya rencana agar kamu mendekati anaknya Surya suatu saat nanti. Mungkin ini yang namanya takdir, aku tak harus susah-susah membuat rencana mendekatkan kalian. Tapi takdir yang mempertemukan kalian dengan sendirinya. Ini uang ambil, kamu ubah gayamu yang berantakan dan cukur kumismu itu! Buat dia jatuh cinta kepadamu, lalu kamu hancurkan perasaannya sehancur-hancurnya!,” kata Mr.Gabriel.
            “Aku tidak mau,” jawab Faldo.
            “Ayolah! Aku tahu kamu suka berbuat baik, dengan sok-sokan jadi dermawan. Tapi bagaimana pun, kamu itu tetaplah seorang pembunuh. Sudah banyak nyawa kamu bunuh, apa kamu masih mau sok alim?,” tanya Mr.Gabriel.

            Pak Surya terus mendapatkan terror dari Faldo, sampai akhirnya dia masuk rumah sakit. Sedangkan Dwi semakin dekat saja dengan Faldo. Semuanya berjalan begitu saja, seperti air mengalir. Faldo tetap menjadi dirinya yang cuek, dengan gayanya. Dia tidak mengubah penampilannya agar Dwi jatuh cinta kepadanya. Karena dia tahu Dwi yang lebih pantas menjadi adiknya ini, menyukainya karena dia yang apa adanya.
***
            “Aku dengar kamu malah menghindari Dwi? Apa kamu sudah melupakan rencanamu untuk menghancurkan mereka?,” tanya Mr.Gabriel sambil memegang pundak Faldo.
            “Tidak, hanya saja…,” kata Faldo tak meneruskan ucapannya.
            “Hanya saja apa? Kamu mulai lemah atau kamu malah jatuh cinta, pada anak yang telah membunuh keluargamu?,” kata Mr.Gabriel.
            “Dia itu tak bersalah, dia gadis yang baik hati,” kata Faldo.
            “Kamu jatuh cinta padanya Faldo? Lupakan saja kematian keluargamu, yang dibantai empat belas tahun yang lalu. Dan pacari saja anak si Surya itu!,” sindir Mr.Gabriel.
            “Aku hanya ingat pada adikku, aku tidak akan melupakan kematian keluargaku. Justru itu aku menghindarinya, agar membuatnya merasa kehilanganku. Dengan begitu, aku yakin dia sendiri yang akan datang menemuiku, karena rindu padaku,” kata Faldo.
“Pria nakal. Jika itu terjadi, berarti dia benar-benar jatuh cinta kepadamu,” kata Mr.Gabriel.
            “Yah, aku ingin lihat bagaimana si Surya kalang kabut. Melihat anak semata wayangnya berada digenggamanku,” kata Faldo.
            “Kamu memang anak buahku, yang paling bisa kuandalkan,” kata Mr.Gabriel sambil berlalu pergi.
            “Maafkan aku Dwi! Mungkin kamu melihatku seperti orang baik, andai kamu tahu betapa jahatnya aku,” gumam Faldo.
            Faldo dan Dwi pun semakin dekat, hati Faldo semakin luluh oleh kesabaran Dwi. Namun Mr.Gabriel terus menekan Faldo untuk menghancurkan Dwi dan Pak Surya. Faldo bingung hatinya serasa berperang hebat, antara harus menghancurkan hatinya Dwi yang ia mulai merasa menyukainya, atau tidak melakukannya tapi dia terus ingat kematian keluarganya.
Akhirnya Faldo pun membuat Pak Surya celaka lagi. Sehingga semuanya terbongkar, sekarang Dwi tahu kalo yang selama ini mencelakai ayahnya adalah Faldo. Begitu pun dengan Pak Surya, dia baru tahu ternyata selama ini putrinya dekat dengan Faldo, anak buahnya Mr.Gabriel musuhnya sendiri.
Dwi merasa marah pada Faldo, ternyata laki-laki yang ia kagumi selama ini, adalah orang yang mencelakai ayahnya sendiri. Tanpa pikir panjang Dwi pun datang menemui Faldo, yang saat itu berada di klub malam.
“Aku benci sama kamu,” bentak Dwi sambil menyiramkan minuman ke muka Faldo.
Entah kenapa hati Faldo sangat sakit sekali, rasanya ribuan pedang sedang menancap dihatinya.
***
Hari telah berlalu, akal sehat Dwi benar-benar membuatnya yakin, jika Faldo yang ia kenal adalah Faldo yang baik hati dan apa adanya. Tanpa sepengetahuan Pak Surya, Dwi datang pada Faldo. Dia bilang jika dia menyukainya, Faldo yang mendengar itu tak bisa berkata-kata.
Akhirnya mereka berhubungan lagi, tanpa sepengetahuan Pak Surya dan bossnya Faldo, Mr.Gabriel.
            Namun Mr.Gabriel bukanlah orang yang mudah untuk dibohongi. Dia tahu, kalo Faldo benar-benar sudah membuat Dwi jatuh kepelukannya. Dan dia yakin, jika Faldo menghancurkan hatinya Dwi, maka Dwi akan benar-benar merasa hancur sekali. Mr.Gabriel pun menyuruh Faldo untuk melakukan rencananya yang telah ia siapkan selama ini. Namun Faldo tidak melakukannya karena dia benar-benar jatuh cinta pada Dwi.
            “Maafkan aku Mah-Pah. Aku benar-benar menyukainya, aku tidak bisa membalaskan dendam ini. Dia itu tidak bersalah, tapi ayahnyalah yang bersalah,” gumam Faldo dalam hati.
            Mr.Gabriel yang mengetahui hati Faldo yang mulai lemah, dia pun menyuruh anak buahnya yang lain untuk mencelakai Dwi. Mendengar itu Faldo pun menjauhi Dwi agar tak membuat Dwi celaka. Dwi heran kenapa dia begitu sulit menemui Faldo dan setiap bertemu, Faldo selalu marah-marah padanya. Dwi yakin, ada yang sedang Faldo sembunyikan darinya. Dwi pun mencari tahu di mana Faldo tinggal dan mendatangi rumahnya. Namun apa yang Dwi lihat, dia melihat Faldo sedang berduaan di dalam kamar dengan seorang perempuan. Betapa terkejutnya Dwi melihat itu semua.
            “Siapa dia?,” tanya Dwi pada Faldo.
            “Wanitaku,” jawab Faldo.
            “Aku tidak percaya!,” kata Dwi.
            “Sebaiknya kamu pergi dari sini, jika kamu tidak ingin celaka. Kamu tahu, mana mungkin aku menyukai anak kecil seperti kamu? Kamu itu begitu polos dan bodoh,” kata Faldo.
            “Apa selama ini kamu hanya pura-pura menyukaiku?,” tanya Dwi. Faldo hanya tersenyum, Dwi yang melihat itu langsung pergi sambil menangis.
            “Tugasmu sudah selesai, kamu boleh pergi!,” kata Faldo sambil beranjak dari tempat tidurnya dan melemparkan amplop berisi uang pada wanita yang bersamanya itu.

            Dwi menangis tanpa henti, hatinya terasa sakit sekali. Pak Surya yang melihat anaknya mengurung diri bertanya-tanya. Dwi pun menceritakan semuanya, betapa marahnya Pak Surya mendengar itu semua. Pak Surya pun menghubungi Mr.Gabriel, dan mengajaknya untuk bertemu. Namun Mr.Gabriel menolak ajakan Pak Surya tersebut.
            Hingga selang beberapa hari Dwi diculik oleh Mr.Gabriel, tanpa sepengetahuan Faldo. Mr.Gabriel meminta Pak Surya untuk menyerahkan seluruh asset dan sahamnya untuk ditukar dengan nyawa Dwi. Faldo yang baru datang untuk menemui bossnya itu, mendengar percakapan bossnya dengan Pak Surya ditelepon. Dia begitu marah mendengar semua itu, dan ternyata di sana ada Dwi yang sedang diikat di tiang.
            “Dasar gadis bodoh, betapa bodohnya kalian. Kamu tahu Dwi ibumu mati ditanganku, karena dia lebih memilih ayahmu yang jelas-jelas tidak mencintainya. Dan semua keluarga pacarmu si Faldo itu, akulah yang membunuhnya juga. Dengan bodohnya si Faldo datang kepadaku, untuk membalas kematian keluarganya, dia menyangka ayahmulah yang membunuh keluarganya.
Kamu tahu, sudah berapa banyak orang yang ia bunuh untukku? Pacarmu itu seorang pembunuh handal, dia membunuh orang-orang yang tidak kusuka. Sebagai permulaan, untuk membunuh musuh besarku ya itu ayahmu,” kata Mr.Gabriel.
            Tambah marahlah Faldo mendengar itu semua, ternyata orang yang selama ini seharusnya ia benci adalah bossnya sendiri. Betapa marahnya dia pada dirinya sendiri, apa bedanya dia dengan bossnya Mr.Gabriel, karena dia juga membunuh banyak orang tak berdosa.
            Tak lama Pak Surya pun datang bersama para pengawalnya. Mr.Gabriel pun keluar untuk menemui Pak Surya. Faldo yang melihat kesempatan itu langsung menghampiri Dwi untuk membukakan ikatan tangannya Dwi dan membawanya keluar.
            Saat Faldo membawa Dwi keluar, Mr.Gabriel yang melihatnya begitu marah. Mr.Gabriel langsung mengarahkan pistolnya kearah Dwi. Faldo yang melihat itu langsung mengarahkan pistolnya juga ke arah Mr.Gabriel dan langsung melesatkan pelurunya.
Saat itu Mr.Gabriel yang terkena tembak langsung jatuh ke tanah. Dari situ terjadilah tembak menembak dan perkelahian diantara para pengawal Pak Surya dan anak buahnya Mr.Gabriel.
            Pak Surya tidak tinggal diam dia juga mengarahkan pistolnya ke arah Faldo dan mencoba untuk menembak Faldo. Namun yang terjadi, Dwi malah menghalangi Faldo, dan Dwilah akhirnya yang terkena tembak. Di belakang Pak Surya, ada Mr.Gabriel yang masih setenga tersadar dia pun langsung menembak Pak Surya tanpa henti. Faldo yang melihatnya menembakkan pistolnya lagi ke Mr.Gabriel.
            Saat itu semuanya hening, hanya Faldo yang selamat dan beberapa pengawal Pak Surya. Dwi yang masih tersadar, mengucapkan kata-kata terakhirnya. “Faldo, aku minta satu hal padamu, jangan pernah menyalahkan dirimu atas semuanya. Aku harap kau akan terus bahagia, teruslah hidup untukku! Aku akan menunggumu di surga, Faldo,” kata Dwi sambil menahan rasa sakit, sebelum ia menutup kedua matanya
***
            “Dwi, dulu di dalam hatiku sesungguhnya aku ingin sekali mem-perlakukanmu dengan baik. Tapi sekarang aku malah bersyukur aku tidak memperlakukanmu dengan baik. Yang aku sesali malah, aku tidak bisa melindungimu dengan baik.”
-Faldo-