Kamis, 17 Agustus 2017

Aku Ingin Hidup


Namaku Fajar, seperti sang Fajar yang sempat tenggelam ditelan gelapnya malam, begitu juga hidupku yang hampir tenggelam dan tak kembali bersinar di bumi. Pagi hari yang cerah itu, aku mengalami kecelakaan yang mengerikan. Saat itu aku baru beberapa hari lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA). Aku tertabrak sebuah mobil truk yang oleng, karena supirnya mengantuk. Aku pun dibawa ke rumah sakit oleh orang-orang yang melihatku tergeletak di jalan setelah terlempar sejauh empat meter. Selama diperjalanan ke rumah sakit aku masih setengah sadar. Dalam sadarku aku teringat pada seseorang, dia adalah tanteku.
Aku teringat saat tanteku sakit, karena kanker yang menggerogotinya. Dia bisa dikatakan orang berada. Tanteku mempunyai anak yang sudah besar-besar, mereka ada yang sudah bekerja, dan sudah berkeluarga. Tantek begitu berjuang melawan penyakit kankernya, karena dia ingin sekali sembuh. Sampai suatu hari dia harus dibawa ke rumah sakit, karena badannya yang drop dan harus segera dioprasi.
Namun yang terjadi, anak-anaknya malah tidak mengoprasinya karena alasan tidak ada biaya. Padahal jika dia menjual salah satu tanahnya saja, dia pasti bisa dioprasi. Walaupun dokter mengatakan hanya 10% kemungkinan oprasi tanteku bisa berhasil. Aku tahu mereka tidak melakukan oprasi itu, bukan berarti mereka tidak menyayangi ibunya. Tapi karena mereka berpikir oprasi itu akan percuma, karena kemungkinan berhasilnya yang kecil, tapi biayanya yang besar. Mungkin mereka berpikir, lebih baik uangnya dipakai untuk yang lebih bermanfaat.
Tapi setidaknya apa salahnya kita mencoba melakukan oprasi itu? Bahkan walau kemungkinan untuk hidupnya hanya 1%, toh taka ada yang mustahil bagi tuhan. Manusia hanya bisa berusaha dan mencoba, apa lagi dia adalah ibu mereka sendiri yang seharusnya mereka perjuangkan. Jangan takut kehilangan sedikit hartamu demi orang yang rela memberikan seluruh hartanya. Apa lagi tanteku selalu berjuang ingin sembuh melawan penyakitnya.
            Dari situ terbesit diingatanku, aku takut keluargaku memperlakukan hal yang sama padaku, seperti pada tanteku. Apa lagi aku tak punya apa-apa untuk aku jual. Selama aku tersadar diperjalanan menuju rumah sakit aku terus berkata pada keluargaku. “Aku ingin hidup. Aku ingin hidup!” kataku sambil terbata-bata menahan sakit. “Aku ingin hidup lebih lama, aku ingin melakukan yang aku inginkan sebelum aku mati. Jadi, kumohon jangan … jangan sampai aku mati! Sebelum aku tahu, untuk apa aku hidup di dunia ini? Selamtakan aku!” harapku dalam hati.
Aku memohon pada mereka dengan lidah masih terbata-bata, “Lakukan apa saja agar aku tetap hidup. Kan ku balas berkali-kali lipat!”. Dan akhirnya aku tak sadarkan diri dan koma untuk waktu yang cukup lama. Meski aku tak sadarkan diri, dalam komaku sesungguhnya aku sedang berjuang agar tetap hidup. Dokter pun salut padaku yang koma ini, berkali-kali aku mengalami syok, berkali-kali pula aku lolos dar kematian. Dokter  bilang aku sempat tiga kali mengalami masa kritis, namun aku tetap bertahan dan melawan kematian.
Saudaraku yang seumuran denganku, Resna namanya. Yang terus mendukungku untuk tetap bertahan dan memkasa keluarga serta sanak saudaraku untuk membantu pengobatanku. Resna terus meyakinkan mereka bahwa semua biaya yang mereka keluarkan untukku, akan aku ganti berkali-kali lipat jika aku sembuh. Sedangkan nenekku hanya bisa menangis melihat keadaanku. Tentunya dengan izin tuhan juga aku mampu bertahan dan sembuh.
            Saat ini aku berada di London, untungnya saat masih di sekolah bahasa inggrisku lumayan lancar. Walau aku dari kalangan orang tak berpunya dan dibesarkan oleh seorang nenek tua. Aku tidak pernah melihat ibuku, karena dia meninggal setelah melahirkanku. Dan ayahku yang meninggalkanku, setahun setelah aku lahir untuk menjemput istri barunya. Sampai sekarang, dia belum pernah memberiku kabar dan menjengukku.
Selama aku di London aku sedang terus berusaha mempertahankan hidupku dan menepati janjiku, sebagai rasa syukurku karena aku masih bisa bernafas di bumi ini. Siang dan malam terasa sama bagiku, cuma satu yang aku pikirkan kerja-kerja dan terus bekerja tanpa henti. Umurku sekarang sudah menginjak dua puluh sembilan tahun. Semenjak sebelas tahun yang lalu, setelah aku benar-benar sembuh. Aku berangkat ke negeri ini, untuk mencari uang dan membayar semua hutang-hutangku kepada saudara dan keluargaku.
Yah, sebelas tahun aku bekerja tanpa henti, dan tidur tiga jam sehari hanya untuk membayar hutang pada keluargaku. Harga yang kurasa pantas untuk sebuah nyawa, dan kesempatan hidup.
Aku tidak tahu informasi terbaru saat ini, jika bukan teman kerjaku yang memberi tahuku. Aku tidak tahu tren terbaru saat ini, fashion apa yang sedang musim? Yang kupunya hanya sepuluh pasang baju yang setia menemani dan menyerap keringatku selama sebelas tahun terakhir ini. Entah sampai kapan hidupku seperti ini? Terus bekerja dan bekerja, untuk membayar hutang-hutangku. Hingga saat nenek meninggal, aku tak bisa pergi untuk sekedar menjenguknya.

“Cepat-cepat bawa itu ke sini! Hey kamu ber-sihkan piringnya!” kata Kepala Koki sambil menunjuk-nunjuk.
“Yes Chef (kepala koki)!” jawabku dan teman-teman serentak.
Dapur yang kacau balau saat itu, dan aku yang hanya sebagai asisten koki, harus selalu siap, cepat, dan tidak melakukan kesalahan sedikit pun. Mengambil bahan masakan di pendingin, member-sihkan piring dan wajan, memberikan bumbu yang akan dipakai Koki. Pekerjaan ini mengharuskanku datang lebih awal untuk mempersiapkan semuanya dan pulang paling terakhir untuk membereskan semuanya.
Pulang dari restoran, aku tak lekas istirahat tapi aku membereskan rumah, mencuci, mengepel di rumah yang kutinggali. Pemiliknya adalah orang Indonesia yang memiliki suami asli London. Aku tinggal di sini dan di gaji oleh mereka, untuk sekedar membersihkan rumah saja. Ibu itu baik sekali padaku, ibu itu bernama Bu Sukma. Mereka mempunyai dua anak laki-laki berusia empat belas tahun dan anak perempuan berusia dua belas tahun.
            Aku bersyukur di balik kesusahanku, masih ada yang baik padaku. Keluarga ini sudah meng-anggapku, seperti keluarga mereka sendiri. Anak-anaknya pun menganggapku, seperti pamannya sendiri. Karena dari kecil aku sudah mengurus mereka. Mengantar mereka ke sekolah dan mem-bantu mereka mengerjakan tugas sekolahnya. Sebelumn akhirnya, aku bekerja di restoran ini sekitar tiga tahun yang lalu.
Dulu sebelum aku kerja di restoran juga, aku sempat melakukan berbagai macam pekerjaan, mulai dari kasir mini market, SPBU, pelayan restoran, pelayan dimakanan cepat saji, bahkan jadi pengamen pun aku jalani. Yang kupikirkan hanya mencari uang dan mencari uang.
            Karena orang-orang di kampung selalu meng-irimkan pesan padaku untuk segera mengirimkan uang. Aku tahu jika kuhitung-hitung, sebenarnya hutangku sudah lunas dari bertahun-tahun yang lalu. Atau tiga tahun setelah aku kerja keras banting tulang di negeri ini. Tapi aku tahu janjiku untuk membayar mereka berkali-kali lipat, dan aku juga tahu untuk setiap desah nafas yang kuhirup hari ini, saat ini, detik ini begitu berharga dan begitu mahal harganya.
Hanya satu yang kuharapkan suatu saat nanti, setelah kurasa cukup untuk membayar hutangku. Aku dapat hidup bebas tanpa beban, dan mewujudkan mimpi-mimpiku sebelum aku mati. Tak peduli saat itu usiaku sudah enam puluh tahun lebih atau pun kurang. Tak peduli seminggu lagi ajalku menjemput. Aku akan berjuang untuk mewujudkan mimpi-mimpiku sebelum aku mati.
Dulu entah kapan tepatnya, rasa itu sering muncul. Saat itu, aku ingin pergi jauuuuh sekali. Pergi sejauh mungkin, mencoba menghindari semua permasalahan hidup. Dan berharap akan ada ke-hidupan yang lebih baik, di tempat yang baru. Tapi itu hanya sebuah harapan, pada kenyataannya aku tak mampu pergi dan harus menghadapi semuanya. Aku terlalu banyak berpikir dan takut, untuk pergi dari rumah gubuk, kampung yang kolot, nenek yang tua renta lagi miskin, dan hinaan-hinaan yang tersirat mau pun tersurat dari setiap mata.
Aku marah kenapa aku dilahirkan ke dunia ini, hanya untuk membuat ibuku mati. Aku marah kenapa ayahku meninggalkanku untuk wanita lain, apa artinya diriku baginya? Aku marah melihat nenekku yang tua renta harus bekerja mencari uang hanya untuk agar aku bisa makan. Aku marah karena keadaan memaksaku untuk berpikir dewasa sejak aku kecil. Aku iri melihat teman-temanku yang bermain ceria tanpa beban. Aku iri melihat teman-temanku yang dapat uang jajan hanya dengan meminta. Sedangkan aku? Uang yang aku dapatkan harus aku tabung untuk berjaga-jaga jika nenek tak dapat uang, untuk menyambung hidup kami.
            Aku ingin pergi dari kehidupan seperti ini, pergi dan tak ingin kembali. Jika aku mampu aku ingin mengusirnya dari hidupku. Jika aku bisa, lebih baik aku jadi orang kaya tuhan. Namun saat aku melihat nenek tua itu, aku ingat perkataannya.
“Ingat teruslah Tuhan, maka kamu akan terus bersyukur. Saat kamu bersyukur PASTI dirimu bahagia. Saat bahagianya dirimu bersyukurlah lagi, dengan memberi kebahagiaan pada orang lain. Maka kali ini bukan hanya dirirmu saja yang bahagia, tapi juga HIDUPMU.”

            Maka dari itu setelah tuhan memberiku kesempatan hidup, aku tak ingin menyianyiakannya. Aku ingin mencari keberadaan ayahku, dan berkata padanya bahwa aku telah berhasil. Berhasil me-wujudkan mimpiku untuk menjadi seorang Koki profesional dan membuka sekolah geratis bagi anak-anak yang tidak mampu dikampungku. Mempunyai anak dan istri yang akanku cintai sepenuh hati. Mimpiku memang sederhana, sesederhana untuk diucapkan, tapi sulit untukku wujudkan.

BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar