Namaku Fajar, seperti sang Fajar yang sempat tenggelam ditelan
gelapnya malam, begitu juga hidupku yang hampir tenggelam dan tak kembali
bersinar di bumi. Pagi hari yang cerah itu, aku mengalami kecelakaan yang
mengerikan. Saat itu aku baru beberapa hari lulus dari Sekolah Menengah Atas
(SMA). Aku tertabrak sebuah mobil truk yang oleng, karena supirnya mengantuk.
Aku pun dibawa ke rumah sakit oleh orang-orang yang melihatku tergeletak di
jalan setelah terlempar sejauh empat meter. Selama diperjalanan ke rumah sakit
aku masih setengah sadar. Dalam sadarku aku teringat pada seseorang, dia adalah
tanteku.
Aku teringat saat tanteku sakit, karena kanker yang menggerogotinya. Dia
bisa dikatakan orang berada. Tanteku mempunyai anak yang sudah besar-besar,
mereka ada yang sudah bekerja, dan sudah berkeluarga. Tantek begitu berjuang
melawan penyakit kankernya, karena dia ingin sekali sembuh. Sampai suatu hari
dia harus dibawa ke rumah sakit, karena badannya yang drop dan harus segera dioprasi.
Namun yang terjadi, anak-anaknya malah tidak mengoprasinya karena
alasan tidak ada biaya. Padahal jika dia menjual salah satu tanahnya saja, dia
pasti bisa dioprasi. Walaupun dokter mengatakan hanya 10% kemungkinan oprasi
tanteku bisa berhasil. Aku tahu mereka tidak melakukan oprasi itu, bukan
berarti mereka tidak menyayangi ibunya. Tapi karena mereka berpikir oprasi itu
akan percuma, karena kemungkinan berhasilnya yang kecil, tapi biayanya yang
besar. Mungkin mereka berpikir, lebih baik uangnya dipakai untuk yang lebih bermanfaat.
Tapi setidaknya apa salahnya kita mencoba melakukan oprasi itu? Bahkan
walau kemungkinan untuk hidupnya hanya 1%, toh taka ada yang mustahil bagi
tuhan. Manusia hanya bisa berusaha dan mencoba, apa lagi dia adalah ibu mereka
sendiri yang seharusnya mereka perjuangkan. Jangan takut kehilangan sedikit
hartamu demi orang yang rela memberikan seluruh hartanya. Apa lagi tanteku
selalu berjuang ingin sembuh melawan penyakitnya.
Dari situ terbesit diingatanku, aku
takut keluargaku memperlakukan hal yang sama padaku, seperti pada tanteku. Apa
lagi aku tak punya apa-apa untuk aku jual. Selama aku tersadar diperjalanan
menuju rumah sakit aku terus berkata pada keluargaku. “Aku ingin hidup. Aku
ingin hidup!” kataku sambil terbata-bata menahan sakit. “Aku ingin hidup lebih
lama, aku ingin melakukan yang aku inginkan sebelum aku mati. Jadi, kumohon
jangan … jangan sampai aku mati! Sebelum aku tahu, untuk apa aku hidup di dunia
ini? Selamtakan aku!” harapku dalam hati.
Aku memohon pada mereka dengan lidah masih terbata-bata, “Lakukan apa
saja agar aku tetap hidup. Kan ku balas berkali-kali lipat!”. Dan akhirnya aku
tak sadarkan diri dan koma untuk waktu yang cukup lama. Meski aku tak sadarkan
diri, dalam komaku sesungguhnya aku sedang berjuang agar tetap hidup. Dokter pun
salut padaku yang koma ini, berkali-kali aku mengalami syok, berkali-kali pula
aku lolos dar kematian. Dokter bilang
aku sempat tiga kali mengalami masa kritis, namun aku tetap bertahan dan melawan kematian.
Saudaraku yang seumuran
denganku, Resna namanya. Yang terus mendukungku untuk tetap bertahan dan
memkasa keluarga serta sanak saudaraku untuk membantu pengobatanku. Resna terus
meyakinkan mereka bahwa semua biaya yang mereka keluarkan untukku, akan aku
ganti berkali-kali lipat jika aku sembuh. Sedangkan nenekku hanya bisa menangis
melihat keadaanku. Tentunya dengan izin tuhan juga aku mampu bertahan dan
sembuh.
Saat
ini aku berada di London, untungnya saat masih di sekolah bahasa inggrisku
lumayan lancar. Walau aku dari kalangan orang tak berpunya dan dibesarkan oleh seorang
nenek tua. Aku tidak pernah melihat ibuku, karena
dia meninggal setelah melahirkanku. Dan ayahku yang meninggalkanku, setahun
setelah aku lahir untuk menjemput istri barunya. Sampai sekarang, dia
belum pernah memberiku kabar dan menjengukku.
Selama aku di London aku sedang
terus berusaha mempertahankan hidupku dan menepati janjiku, sebagai
rasa syukurku karena aku masih bisa bernafas di bumi ini. Siang dan malam
terasa sama bagiku, cuma satu yang aku pikirkan kerja-kerja dan terus bekerja
tanpa henti. Umurku sekarang sudah menginjak dua puluh sembilan tahun. Semenjak
sebelas tahun yang lalu, setelah aku benar-benar sembuh. Aku berangkat ke negeri
ini, untuk
mencari uang dan membayar semua hutang-hutangku kepada saudara dan keluargaku.
Yah, sebelas
tahun aku bekerja tanpa henti, dan tidur tiga jam sehari hanya untuk membayar
hutang pada keluargaku. Harga yang kurasa pantas untuk sebuah nyawa, dan
kesempatan hidup.
Aku tidak tahu informasi terbaru
saat ini, jika bukan teman kerjaku yang memberi
tahuku. Aku tidak tahu tren
terbaru saat ini, fashion apa yang sedang musim? Yang
kupunya hanya sepuluh pasang baju yang setia menemani dan menyerap keringatku
selama sebelas tahun terakhir ini. Entah sampai kapan hidupku seperti ini? Terus
bekerja dan bekerja, untuk membayar hutang-hutangku. Hingga
saat nenek meninggal, aku tak bisa pergi untuk sekedar menjenguknya.
“Cepat-cepat bawa itu ke sini! Hey
kamu ber-sihkan piringnya!” kata
Kepala Koki sambil menunjuk-nunjuk.
“Yes Chef (kepala koki)!”
jawabku dan teman-teman serentak.
Dapur yang kacau balau saat itu, dan aku
yang hanya sebagai asisten
koki, harus selalu siap, cepat, dan tidak melakukan kesalahan sedikit pun.
Mengambil bahan masakan di pendingin, member-sihkan
piring dan wajan, memberikan bumbu yang akan dipakai Koki. Pekerjaan ini
mengharuskanku datang lebih awal untuk mempersiapkan semuanya dan pulang paling
terakhir untuk membereskan semuanya.
Pulang dari restoran, aku tak
lekas istirahat tapi aku membereskan rumah, mencuci, mengepel di rumah yang
kutinggali. Pemiliknya adalah orang Indonesia yang memiliki suami asli London. Aku
tinggal di sini dan di gaji oleh mereka, untuk sekedar membersihkan rumah saja.
Ibu itu baik sekali padaku, ibu itu bernama Bu Sukma.
Mereka mempunyai dua anak laki-laki berusia empat belas tahun dan anak
perempuan berusia dua belas tahun.
Aku
bersyukur di balik kesusahanku, masih ada yang baik padaku. Keluarga ini sudah
meng-anggapku, seperti
keluarga mereka sendiri. Anak-anaknya pun menganggapku, seperti
pamannya sendiri. Karena dari kecil aku sudah mengurus
mereka. Mengantar mereka ke sekolah dan mem-bantu
mereka mengerjakan tugas sekolahnya. Sebelumn akhirnya, aku
bekerja di restoran ini sekitar tiga tahun yang lalu.
Dulu sebelum aku kerja di
restoran juga, aku sempat melakukan
berbagai macam pekerjaan, mulai dari kasir mini market, SPBU, pelayan restoran,
pelayan dimakanan cepat saji, bahkan jadi pengamen pun aku jalani. Yang
kupikirkan hanya mencari uang dan mencari uang.
Karena
orang-orang di kampung selalu meng-irimkan pesan padaku untuk segera
mengirimkan uang. Aku tahu jika kuhitung-hitung, sebenarnya hutangku sudah
lunas dari bertahun-tahun yang lalu. Atau tiga tahun setelah aku kerja keras
banting tulang di negeri ini. Tapi aku tahu janjiku untuk membayar mereka
berkali-kali lipat, dan aku juga tahu untuk setiap desah nafas yang kuhirup
hari ini, saat ini, detik ini begitu berharga dan begitu mahal harganya.
Hanya satu yang kuharapkan suatu
saat nanti, setelah kurasa cukup untuk membayar
hutangku. Aku dapat hidup bebas tanpa beban, dan mewujudkan mimpi-mimpiku
sebelum aku mati. Tak peduli saat itu usiaku sudah enam puluh tahun lebih atau pun
kurang. Tak peduli seminggu lagi ajalku menjemput. Aku akan berjuang untuk
mewujudkan mimpi-mimpiku sebelum aku mati.
Dulu entah kapan tepatnya, rasa
itu sering muncul. Saat itu, aku ingin pergi jauuuuh sekali. Pergi
sejauh mungkin, mencoba menghindari semua permasalahan hidup. Dan berharap akan ada ke-hidupan
yang lebih baik, di tempat yang baru. Tapi itu hanya sebuah harapan, pada
kenyataannya aku tak mampu pergi dan harus menghadapi semuanya. Aku terlalu
banyak berpikir dan takut, untuk pergi dari rumah gubuk, kampung yang kolot,
nenek yang tua renta lagi miskin, dan hinaan-hinaan yang tersirat mau pun
tersurat dari setiap mata.
Aku marah kenapa aku dilahirkan
ke dunia ini, hanya untuk membuat ibuku mati. Aku marah kenapa ayahku
meninggalkanku untuk wanita lain, apa artinya diriku baginya? Aku marah melihat
nenekku yang tua renta harus bekerja mencari uang hanya untuk agar aku bisa
makan. Aku marah karena keadaan memaksaku untuk berpikir dewasa sejak aku
kecil. Aku iri melihat teman-temanku yang bermain ceria tanpa beban. Aku iri
melihat teman-temanku yang dapat uang jajan hanya dengan meminta. Sedangkan
aku? Uang yang aku dapatkan harus aku tabung untuk berjaga-jaga jika nenek tak
dapat uang, untuk menyambung hidup kami.
Aku
ingin pergi dari kehidupan seperti ini, pergi dan tak ingin kembali. Jika aku
mampu aku ingin mengusirnya dari hidupku. Jika aku bisa, lebih baik aku jadi
orang kaya tuhan. Namun saat aku melihat nenek tua itu,
aku ingat perkataannya.
“Ingat teruslah Tuhan, maka kamu
akan terus bersyukur. Saat kamu bersyukur PASTI dirimu bahagia. Saat bahagianya
dirimu bersyukurlah lagi, dengan memberi kebahagiaan pada orang
lain. Maka
kali ini bukan hanya dirirmu saja yang bahagia, tapi juga
HIDUPMU.”
Maka
dari itu setelah tuhan memberiku kesempatan hidup, aku tak
ingin menyianyiakannya.
Aku ingin mencari keberadaan ayahku, dan berkata padanya bahwa aku telah
berhasil. Berhasil me-wujudkan mimpiku untuk menjadi seorang Koki profesional dan
membuka sekolah geratis bagi anak-anak yang tidak mampu dikampungku.
Mempunyai anak dan istri yang akanku cintai sepenuh
hati. Mimpiku memang sederhana, sesederhana untuk diucapkan, tapi
sulit untukku wujudkan.
BERSAMBUNG...
BERSAMBUNG...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar